[FF CHAPTERED] Smells Like A Sweet Coffee – Chapter 1

smells like a sweet coffee2

Title : Smells Like A Sweet Coffee
Genre :  Romance, Angst, Drama | Chanbaek
Length : Chaptered
Cast(s) :
Byun Baekhyun (EXO)
Park Chanyeol (EXO)
Warning : This story is in alternate universe, contains shounen-ai/slash/boy x boy/yaoi. Weird plot and storyline.
Disclaimer : I do not own the characters, I only write the story. Inspired by A Walk to Remember by Nicholas Sparks and Rainbow Troops by Andrea Hirata.

.

.

.

.

CHAPTER I : KEMBANG API

.

.

PADA tahun 2010, Seoul sudah menjadi kota yang sibuk dan padat. Berbagai orang segala usia dari seluruh penjuru daerah berbondong-bondong mengadu nasib di kota yang paling termasyur di Korea Selatan ini, termasuk mengejar pendidikan. Sayangnya aku bukan tipe orang yang suka mengejar, justru akulah yang lebih sering dikejar. Kali ini pun tidak berbeda. Aku merasa dikejar oleh tuntutan menjalani pendidikan yang menurutku tidak ada gunanya. Semua orang bersaing ketat agar dapat masuk ke deretan mahasiswa universitas ternama, atau dikenal dengan tiga besar SKY. Universitas Seoul, Universitas Korea dan Universitas Yonsei. Sepulang sekolah, mereka mendapat kelas-kelas tambahan sampai larut malam, lalu belajar lagi sesampainya di rumah. Hari libur mereka gunakan untuk mengulang pelajaran. Begitulah mereka menjalani hidup selama setahun penuh, hanya untuk dipertaruhkan nasibnya dalam secarik kertas ujian.

Tidak, aku yang saat itu berumur 17 tahun tidak akan mungkin mau menjalani hal yang merepotkan seperti itu. Justru aku merupakan satu dari segelintir orang yang tidak peduli akan pendidikannya sendiri di kota Seoul yang penuh dengan daya saing, padat dan gemerlapan. Mungkin ini semua karena aku merasa aman. Aku selama ini telah berada di bawah asuhan orang tuaku yang hartanya ‘tak akan ada habisnya. Ibuku merupakan pemain saham yang cukup lihai di Korea Selatan. Ia sudah memegang banyak kendali di berbagai perusahaan menengah keatas, menanamkan modal bak memiliki mesin pencipta hujan emas. Dan tampaknya ia memang memilikinya, tapi dalam bentuk sesosok suami yang kukenal sebagai ayahku. Ayahku adalah pemilik salah satu perusahaan elektronik terbesar di Korea Selatan, dengan motto produknya bahwa hidup itu baik, setidaknya bagi dirinya sendiri.

Jangan salah sangka, aku juga berpikir bahwa hidupku jauh lebih menyenangkan daripada kebanyakan orang, dan penyebabnya tentu saja karena kedua orangtuaku ini. Tapi memiliki orangtua yang kaya raya tentu saja harus dibebankan dengan hal-hal merepotkan seperti menjaga martabat keluarga, beretika, menjadi yang terdepan dan lain sebagainya. Dan karena akulah satu-satunya anak yang bisa mereka buat ditengah kesibukan mereka masing-masing, itu semakin menuntutku agar menjadi sempurna bagi mereka sendiri.

Walaupun aku tidak terdengar sebagai orang yang pekerja keras, tapi aku tentu saja bukan orang bodoh. Aku tahu dengan jelas tuntutan-tuntutan yang harus aku penuhi, seperti aku mengetahui bahwa bumi itu bulat. Sayangnya, aku menjalankan semua tuntutan itu sambil tergopoh-gopoh kelelahan, bagai menggali sumber mata air dipadang gurun dengan tangan kosong. Aku saat itu juga ‘tak tahu bahwa ada sumber mata air dibawah sana, sampai ada seseorang datang dengan wajah ceria memberitahuku soal itu. Seseorang yang telah mengubah batu penjuru hidupku seluruhnya. Sosok jangkungnya masih melekat erat di benang kalbuku, bersamaan dengan wajah, suara, dan terutama cengirannya yang khas.

Namanya Park Chanyeol. Ia awalnya merupakan salah satu bagian yang sangat kecil dalam hidupku, dimana kehadirannya hampir mendekati angka nol apabila tubuhnya tidak sejangkung itu. Ia masuk sekolah di awal musim semi, dimana kami semua termasuk dia sudah berada di kelas 12. Kemunculan murid baru merupakan hal yang tidak lazim terjadi, terutama saat kalian sudah berada di tingkat akhir. Maka dikombinasikan dengan wajahnya yang cukup tampan dan kelihaiannya bermain musik, kepopulerannya langsung melejit keras bak restoran ayam goreng mendekati hari Natal. Tentu saja, dia tidak memiliki fanclub atau semacamnya, juga tidak ada gadis-gadis mengerubungi dia setiap ia masuk ke gerbang sekolah. Tapi dia tetap tidak luput dari gadis-gadis yang menaruh hati padanya. Lokernya menjadi sasaran utama para gadis itu. Belum ada sebulan ia menginjakan kaki di sekolah ini, lokernya sudah ditempeli permen dan nama serta kelas seorang gadis enam kali.

Tapi bukan berarti kepopulerannya hanya semata-mata karena wajah atau kemampuan bermain musiknya. Ia juga merupakan orang yang ceria dan membawa senyuman pada setiap orang di dekatnya. Ia seperti kumpulan kembang api yang disulut bersama-sama pada malam tahun baru – menonjol, meledak-ledak, dan energinya melimpah ruah. Setiap menatapnya aku merasa seperti ditantang, apakah kau sudah melakukan hal luar biasa hari ini?

Saat pertama kali ia masuk ke kelas ku yang nantinya kusebut sebagai kelas kami, Tuhan sudah mengintip dari celah langit, diantara awan-awan yang menutupi matahari. Ia sudah mengatur bahwa teman sebangkuku, Kim Jongdae, terkena penyakit cacar untuk pertama kali dalam hidupnya yang membuatnya tidak dapat masuk. Malang sekali nasib anak itu. Aku membayangkan bagaimana dia tetap belajar di rumah, dibantu dengan guru privat sambil terbatuk-batuk dan berselimut tebal.

Jadi, bangku yang tersisa hanyalah disebelahku saat itu. Well, pilihannya masih ada satu lagi, tapi itu berarti dia memilih untuk duduk di sebelah gadis gendut berkacamata tebal bernama Lee Min Ha. Rambutnya tampak ‘tak terurus berminyak, dan beratnya pasti lebih dari delapan puluh kilo. Tidak ada orang yang sampai hati untuk menyarankan gadis itu lebih mengurus penampilannya, bahkan orangtuanya sendiri. Dan karena itu, tentu saja laki-laki waras manapun tidak akan menjadikan kursi di sebelah gadis itu sebagai pilihan utama, kecuali kalau kau ayahnya.

Akhirnya setelah memperkenalkan diri, Chanyeol memang memilih duduk di sebelahku. Kami bertukar pandang sebentar, lalu dia tersenyum lebar menatapku. Aku mau ‘tak mau juga membalasnya, lalu buru-buru mengalihkan pandanganku ke depan. Dari senyuman tadi, aku bisa menilai kalau orang ini adalah tipe orang yang walaupun dilanda kesengsaraan selama hidupnya, masih dapat tersenyum lebar dan bersikap positif. Kupikir ia termasuk orang yang bodoh, tapi nanti saat aku sudah mengenal dia lebih dalam, akulah yang merasa seperti orang bodoh.

Dua bulan setelah kedatangannya, kami menjadi cukup dekat sampai bisa tertawa bersama di kelas. Kami bahkan tertawa akan Jongdae yang telah sembuh dan terpaksa duduk di samping Minha. Tapi, hanya sebatas itu saja. Kami tidak pernah bertemu diluar sekolah, dan kami tidak berusaha untuk itu. Aku pikir ia menghabiskan waktu sepulang sekolah dengan bermain bersama teman-teman lain,  atau mungkin mengikuti pelajaran tambahan. Tapi sebenarnya dia tidak melakukan kedua hal itu, dan aku mengetahuinya secara tidak sengaja. Pengetahuan inilah yang membawaku semakin tertarik pada sosok seorang Park Chanyeol.

Saat itu Minggu siang, dan aku sedang bersama Gayoung. Kami merupakan sepasang kekasih yang baru berjalan 5 bulan, tapi aku merasa sudah kehilangan percikan cinta itu. Kurasa pupus karena sikap Gayoung yang terlalu protektif terhadapku. Gayoung tidak buruk sebenarnya. Dia cukup cantik dan manis. Tapi siapa sangka ia merupakan seseorang yang sangat cemburuan, sampai mengerjakan tugas kelompok saja aku perlu diawasi olehnya.

“Maaf Gayoung-ah,”

Aku mengucapkan kata demi kata dengan lambat. Mengatakan kalau aku tidak lagi mencintainya. Kalau aku tidak menyukai sikapnya. Dan seperti yang telah kuperkirakan, suasana café itu mendadak suram. Wajah Gayoung sarat akan kepedihan, lalu sedetik berikutnya, kepedihan itu berubah menjadi amarah. Aku sudah mempersiapkan diri untuk ditampar atau disiram dengan air minum, dan Gayoung benar-benar melakukannya. Ia berteriak marah padaku dan menyiramku dengan air mineral yang baru saja ia pesan untuk diet ketatnya. Ia berdiri dengan wajah merah padam, lalu meninggalkanku begitu saja disertai makian sepanjang jalan. Aku menghela napas pelan, lalu kuusap bajuku yang sudah basah kuyup disiram segelas air yang bahkan belum diminum barang setegukpun.

“Kau perlu baju ganti?”

Suara yang familiar datang dari sampingku. Aku menatap sesosok jangkung yang kukenal sebagai teman sekelasku itu. Ia tersenyum lebar seperti biasa, lalu menyerahkan handuk kering dan bersih ke tanganku.

“Chanyeol,” ucapku pelan sambil tersenyum. Aku lega ada seseorang yang kukenal menolongku. Chanyeol juga bukan tipe orang yang mengumbar sensasi, jadi aku tidak terlalu memikirkan berita ini akan tersebar bagai Black Plague. Mungkin Gayoung sendiri yang akan mengatakannya keras-keras di radio sekolah nanti.

“Ayo kuantar kau ke ruang ganti, kebetulan aku memiliki baju yang bisa kau pakai,”
Ia menarikku dengan agak terlalu bersemangat masuk ke dalam ruang staff. Aku mengerutkan dahi dan berpikir kenapa kami boleh masuk ke ruangan itu seenaknya. Lalu, aku menyadari bahwa Chanyeol sekarang tidak menggunakan pakaian sekolah atau kasual, tapi pakaian yang biasanya digunakan oleh para barista. Ia mengajakku masuk ke ruang ganti pria, lalu memberikanku T-shirt hitam.

“Maaf, aku tidak punya celana lebih, lagipula aku ‘tak yakin kau bisa menggunakan celanaku tanpa kewalahan menariknya keatas berkali-kali,” ujarnya sambil tertawa dan tersenyum lebar, yang cukup memulihkan moodku saat ini.

“Tidak apa-apa, ini cukup. Kurasa bajumu pun akan terlihat aneh padaku,” jawabku dengan nada lebih ceria daripada tadi. Chanyeol tertawa lagi, lalu menyambar.

“Tidak. Kau akan terlihat manis,” ucapnya dengan nada bercanda. Aku mendengus tidak setuju, lalu mengganti bajuku yang basah dengan bajunya. Memang agak terlalu besar, tapi masih lebih baik daripada harus berjalan-jalan dengan baju basah seperti tadi.

“Kau bekerja disini?” tanyaku ringan sambil menatapnya dari atas ke bawah. Chanyeol menanggapinya dengan mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Lalu? Kau tidak memfokuskan diri untuk ujian masuk universitas nanti?” aku bertanya lagi, mulai penasaran. Kami sekarang sudah berada di luar café itu, dan aku disuruhnya pulang segera agar tidak masuk angin. Chanyeol tersenyum simpul.

“Tidak, aku tidak akan melanjutkannya,” jawabnya sambil menerawang ke depan. Aku merasa pandangannya bukan hanya sebatas itu. Ada kepastian di wajahnya. Satu dari segelintir hal yang ‘tak pernah bisa kugapai. Tapi entah mengapa, kepastian itu diiringi dengan kepasrahan yang hanya sekelebat saja dapat terlihat.

“Kenapa?”

Sekarang banyak sekali pertanyaan terngiang-ngiang di otakku, dan teori-teori mengenai kehidupannya bermunculan. Salah satunya bahwa dia mungkin tidak memiliki biaya untuk sekolah, maka dari itu dia bekerja. Tapi, aku teringat kalau dia memiliki motor besar yang setahuku ‘tak murah. Selagi aku sibuk dengan pikiranku sendiri, Chanyeol hanya tersenyum, lalu menatap langit.

“Aku suka aroma kopi,” jawabnya ringan sambil tersenyum lebar seperti biasanya padaku. Aku masih belum mengerti apa maksud dari jawabannya, tapi kuputuskan untuk tidak menanyakannya lebih lanjut dan kembali ke rumah. Ia pasti memiliki alasan tersendiri, dan aku tidak berniat untuk mengusik privasinya. Lagipula masalah apapun yang dia alami tidak penting bagiku, paling tidak untuk saat ini.

Esoknya, berita mengenai aku dan Gayoung putus sudah tersebar ke semua kelas dalam angkatan kami. Sudah kukira bahwa Gayoung akan menyebarkan masalah ini seperti epidemik modern. Tapi, masalah itu tidak benar-benar kupikirkan. Aku hari itu membawa tas kertas berwarna coklat yang isinya T-shirt Chanyeol kemarin. Kuletakan tas itu di atas mejanya, lalu duduk di tempatku. Kulirik sebentar jam dinding di depan kelas kami, lalu tanpa sadar, aku menunggu sosok jangkung itu masuk ke kelas dengan cengirannya yang biasa.

Dan tentu saja dia datang, tepat lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Ia menyapa seluruh kelas dengan bersemangat, lalu langsung menuju tempat di sebelahku.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, sobat?” tanyanya dengan cengirannya yang khas sambil menepuk punggungku dan menghempaskan tubuhnya ke kursi. Aku mengangkat bahu.

“Gadis itu menyebarkan berita soal kemarin bahkan lebih cepat dibandingkan berita kedatanganmu. Hebat sekali,” jawabku dengan nada sarkastis di bagian akhir. Chanyeol hanya tertawa, lalu memandang tas kertas di hadapannya sebentar. Ia melirikku.

“Ah, itu bajumu. Thanks. Jangan khawatir, sudah dicuci dan disetrika,”

Ia terdiam sejenak, lalu tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sekilas ia terlihat lucu, dengan kedua telinganya yang melambai-lambai seperti telinga gajah setiap kepalanya ia goyangkan seperti itu.

“Sudah, simpan lagi saja. Kenang-kenangan dariku,” ujarnya ringan, lalu meletakkan tas itu di mejaku. Aku mengerutkan dahiku, bingung.

“Siapa tahu suatu saat nanti kau akan merindukanku,” lanjutnya setengah bergumam. Aku semakin bingung, lalu menatapnya lekat. Dia hanya tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya dariku. Pikiranku mulai mencerna kata demi kata yang ia ucapkan barusan, sebelum akhirnya buyar oleh ucapan laki-laki jangkung itu.

“Setelah ini ayo kita mampir ke café ku. Akan kuracik kopi terenak yang pernah kau rasakan Baekkie,” ajaknya setelah beberapa saat. Aku menatapnya, lalu mengangguk setuju. Ia memanggilku Baekkie. Terdengar akrab, batinku dalam hati. Tapi itu bukan masalah bagiku. Mungkin tidak ada salahnya memiliki sahabat seperti dia. Dia tersenyum, lalu ekspresinya berubah, seakan teringat sesuatu. Sesuatu yang membuat senyumannya tadi hilang beberapa saat, lalu muncul lagi.

“Kau harus janji satu hal Baekkie,”

“Apa Yeollie?” tanyaku balik sambil menekankan kata “Yeollie”, membuat Chanyeol tertawa sebentar. Aku memperhatikan tawanya. Ia terlihat menggelikan saat tertawa lebar, tapi saat ia tertawa biasa seperti ini, dia terlihat cukup tampan, bahkan bagiku.

“Jangan pernah jatuh cinta padaku,”

Ucapnya setelah ia selesai tertawa. Ia tersenyum simpul padaku, lalu tertawa lagi. Memberikan kesan kalau ia main-main soal janji itu. Aku juga tertawa, karena aku tahu Park Chanyeol adalah orang dengan rasa humoris yang tinggi. Lagipula aku tidak berminat dengan sesama jenis. Setelah itu, kuberikan janji itu padanya.

.

.

.

To be continued.
.

.

Author’s Note

Aku kembali lagi! Karena aku udah nulis sampe chapter 2, jadi bisa aman untuk saat ini. Aku masih belum bisa menulis sampai selesai chapter 3 nya. /nangis
Maafkan diriku apabila ada kesalahan kata atau penulisan dalam cerita, kekurangan EYD, bahasa yang sederhana dan amburadul, juga penyajian yang kurang baik. Feedback will be very awesome! :D

.

.

Index
Prologue
– Chapter 1 –

Advertisements

One thought on “[FF CHAPTERED] Smells Like A Sweet Coffee – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s